Liputan6.com, Barcelona: Catatan ringan mengulas kegagalan Barcelona
mengalahkan Chelsea di leg kedua semifinal Liga Champions yang
berlangsung di Camp Nou semalam. Dengan hasil imbang 2-2, Barca kalah
agregat 2-3.Dari catatan statistik resmi yang dilansir UEFA, pasukan
asuhan Pep Guardiola menguasai 72 persen penguasaan bola. Lalu, kenapa
Lionel Messi dkk gagal mencetak satu gol pun di 45 menit kedua?
Setelah berhasil mencetak dua gol lewat sontekan Sergio Busquets dan
Andres Iniesta di 10 menit terakhir babak pertama plus mendapat
keuntungan dengan dikeluarkannya John Terry, publik Nou Camp begitu
yakin jika tim kesayangannya bakal melangkah ke Allianz Arena, Muenchen,
tempat final digelar 19 Mei mendatang. Namun, di injury time, gol
balasan yang cantik dari Ramires membuat Barca dituntut minimal
melesakkan satu gol tambahan di babak kedua.
Ternyata, semua
strategi dan racikan Guardilola tak mampu membuat Barca menembus lini
pertahanan Chelsea yang notabene justru dikoordinir oleh dua bek yang
sejatinya bukan murni palang pintu dalam diri Jose Bosingwa dan
Branislav Ivanovic. Begitu memasuki babak kedua, karena tak mempunyai
pilihan lain, Roberto Di Matteo mengubah strategi dengan “memarkir bus”
alias menerapkan formasi 4-5-0 dimana Ashley Cole nyaris bertugas
sebagai center-back ketiga dan Didier Drogba menjadi full-back gantung.
Itulah sebabnya Drogba memberikan hadiah penalti bagi Barca. Namun,
justru dari tendangan 12 pas itulah awal dari mulainya kegagalan Barca.
Kutukan bagi Messi yang sampai sejauh ini belum berhasil menjebol gawang
Petr Cech terus berlanjut. Mental Messi pun tampak down. Sayangnya bagi
Guardiola, anak-anak asuhannya tak mampu lagi melancarkan serangan
melalui bola-bola diagonal, yang terbukti menjadi awal dari terciptanya
dua gol di babak pertama.
Dengan menghadapi strategi "parkir
bus", sejatinya Guardiola harus mempunyai rencana cadangan atau Plan B
dengan menginstruksikan Messi dkk bermain lebih melebar dan memberikan
tekanan yang konsisten terhadap Ramires di sektor sayap kanan Chelsea
dan Drogba di sektor sayap kiri. Masuknya Christian Tello menunjukkan
jika Barca berusaha untuk melakukannya (memanfaatkan lebar lapangan).
Namun, berkali-kali bukti di lapangan menunjukkan Barca kerap berupaya
menggedor lini belakang Chelsea dari sentral lapangan, sesuatu yang
justru dikehendaki Di Matteo. Hal itu tampak dari berkali-kalinya usaha
Messi dkk melakukan satu-dua sentuhan di jantung pertahanan Chelsea.
Strategi yang telah dibaca Frank Lampard dkk.
Rencana cadangan
alias Plan B itulah yang kini menjadi pekerjaan rumah bagi Guardiola
yang menandaskan jika timnya bakal belajar banyak dari laga tadi malam
dan berusaha tampil lebih baik lagi di musim depan.
Setelah berhasil mencetak dua gol lewat sontekan Sergio Busquets dan Andres Iniesta di 10 menit terakhir babak pertama plus mendapat keuntungan dengan dikeluarkannya John Terry, publik Nou Camp begitu yakin jika tim kesayangannya bakal melangkah ke Allianz Arena, Muenchen, tempat final digelar 19 Mei mendatang. Namun, di injury time, gol balasan yang cantik dari Ramires membuat Barca dituntut minimal melesakkan satu gol tambahan di babak kedua.
Ternyata, semua strategi dan racikan Guardilola tak mampu membuat Barca menembus lini pertahanan Chelsea yang notabene justru dikoordinir oleh dua bek yang sejatinya bukan murni palang pintu dalam diri Jose Bosingwa dan Branislav Ivanovic. Begitu memasuki babak kedua, karena tak mempunyai pilihan lain, Roberto Di Matteo mengubah strategi dengan “memarkir bus” alias menerapkan formasi 4-5-0 dimana Ashley Cole nyaris bertugas sebagai center-back ketiga dan Didier Drogba menjadi full-back gantung.
Itulah sebabnya Drogba memberikan hadiah penalti bagi Barca. Namun, justru dari tendangan 12 pas itulah awal dari mulainya kegagalan Barca. Kutukan bagi Messi yang sampai sejauh ini belum berhasil menjebol gawang Petr Cech terus berlanjut. Mental Messi pun tampak down. Sayangnya bagi Guardiola, anak-anak asuhannya tak mampu lagi melancarkan serangan melalui bola-bola diagonal, yang terbukti menjadi awal dari terciptanya dua gol di babak pertama.
Dengan menghadapi strategi "parkir bus", sejatinya Guardiola harus mempunyai rencana cadangan atau Plan B dengan menginstruksikan Messi dkk bermain lebih melebar dan memberikan tekanan yang konsisten terhadap Ramires di sektor sayap kanan Chelsea dan Drogba di sektor sayap kiri. Masuknya Christian Tello menunjukkan jika Barca berusaha untuk melakukannya (memanfaatkan lebar lapangan).
Namun, berkali-kali bukti di lapangan menunjukkan Barca kerap berupaya menggedor lini belakang Chelsea dari sentral lapangan, sesuatu yang justru dikehendaki Di Matteo. Hal itu tampak dari berkali-kalinya usaha Messi dkk melakukan satu-dua sentuhan di jantung pertahanan Chelsea. Strategi yang telah dibaca Frank Lampard dkk.
Rencana cadangan alias Plan B itulah yang kini menjadi pekerjaan rumah bagi Guardiola yang menandaskan jika timnya bakal belajar banyak dari laga tadi malam dan berusaha tampil lebih baik lagi di musim depan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar